
| MENGURANGI KONSUMSI BERAS MERUPAKAN SALAH SATU KUNCI MENGATASI KRISIS PANGAN |
|
|
|
| Written by KTNA | ||||||
| Sunday, 04 December 2011 18:00 | ||||||
|
Ketua Umum KTNA : MENGURANGI KONSUMSI BERAS MERUPAKAN SALAH SATU KUNCI MENGATASI KRISIS PANGAN Jakarta, (Agribisnews) ![]() Dalam upaya menyikapi krisis pangan dunia yang berdampak pada ketahanan pangan nasional, salah satu kuncinya pemerintah secara bertahap harus mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi beras, dengan program yang terencana dan terukur. Saat ini konsumsi beras Indonesia mencapai 139 kg/kapita/tahun, merupakan yang tertinggi dibanding negara-negara lain. Secara bertahap pemerinah harus punya target menurunkan konsumsi beras misalnya menjadi 130 kg/kapita/tahun, kemudian tahun berikutnya turun menjadi 120 kg/kapita/tahun, dan seterusnya. Dalam program pengurangan konsumsi beras harus dibarengi dengan peningkatan konsumsi pangan lokal. Ir.H. Winarno Tohir, Ketua Umum KTNA (Kelompok Kontak Tani dan Nelayan Andalan) Nasional mengatakan kepada Agribisnews. Berdasarkan sensus ekonomi nasional yang dilakukan BPS (Badan Pusat Statistik) dilaporkan, sepanjang tahun 2010 konsumsi beras per kapita turun sebesar 1,4% dibanding tahun 2009. Pengurangan konsumsi beras tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan konsumsi pangan lokal, namun malah terjadi peningkatan konsumsi terigu dan kentang. KTNA memberikan apresiasi kepada masyarakat yang dengan kesadarannya sendiri telah mau mengurangi konsumsi beras. KTNA tidak melihat faktor yang mendorong masyarakat mengurangi konsumsi beras tersebut. Kemungkinan faktor harga beras yang semakin mahal, sehingga masyarakat yang berpenghasilan rendah semakin sadar untuk mengurangi konsumsi beras, dan beralih mengkonsumsi pangan non-baeras. Kalau faktor tersebut yang mendorong masyarakat atas kesadaran sendiri mengurangi konsumsi beras, berarti bukan program pemerintah yang menyebabkan konsumsi beras nasional turun. Oleh karena itu, agar pengurangan konsumsi beras lebih efektif dan lebih cepat terlaksana dalam upaya mengamankan ketahanan pangan nasional, pemerintah supaya membuat program secara terencana dan terukur. Upaya mengamankan ketahanan pangan nasional melalui cara menggenjot produksi gabah dengan cara melakukan perluasan areal tanam, memerlukan waktu lama. Meningkatkan produksi dalam jangka pendek juga memerlukan waktu, apalagi menghadapi anomali iklim yang sulit diprediksi. Langkah yang cepat adalah dengan membuat program gerakan nasional mengurangi konsumsi beras. Namun diakui mendorong masyarakat mengurangi konsumsi beras bukan hal yang mudah dilakukan.
Untuk itu perlu dilakukan tahapan langkah yang terencana misalnya membuat gerakan “satu hari tanpa nasi”. Setelah itu pemerintah diminta mendorong masyarakat yang mampu untuk melakukan efisiensi makan nasi. Masyarakat harus dibiasakan memasak nasi dan makan nasi tidak berlebihan/tersisa. Gerakan efisiensi makan nasi terkait dengan upaya merubah budaya masyarakat makan nasi. Masyarakat harus dibiasakan makan nasi tidak bersisa. Kemudian pada saat masak nasi diusahakan tidak berlebihan untuk dimakan sekeluarga. Bagi kelompok masyarakat yang merasa mampu, biasanya tidak peduli masak nasi berlebih, sehingga terbuang karena tidak habis dimakan sekeluarga. Karena mereka merasa mampu, maka makan nasi berlebih/tidak termakan, tidak dianggap merugikan ekonomi keluarganya. Dengan demikian di satu sisi ada masyarakat yang berkelebihan mengkonsumsi beras, di pihak lain banyak masyarakat tidak mampu membeli beras. Dengan melakukan efisiensi makan nasi bagi masyarakat yang mampu, diharapkan dapat membantu orang lain yang kekurangan makan nasi. Meskipun keluarga yang mampu tidak secara langsung memberikan beras kepada keluarga yang tidak mampu, namun dengan melakukan efisiensi makan nasi, secara tidak langsung mereka juga membantu orang lain berkesempatan membeli beras. Dengan tidak membeli beras dalam jumlah banyak bagi keluarga mampu, diharapkan tidak mendorong harga beras terus naik. Tahapan berikutnya melakukan diversifikasi pangan. Namun untuk mencapai tahapan diversifikasi pangan masih memerlukan diskusi panjang. Bagi keluarga mampu mudah melakukan diversifikasi pangan, dengan mengubah ke jenis makanan non-beras, karena mereka mampu dan memiliki daya beli. Sebaliknya bagi masyarakat tidak mampu, sulit untuk melakukan diversifikasi pangan ke non-beras, karena harga pangan non-beras kadang-kadang lebih mahal daripada harga beras. Untuk merubah budaya masyarakat agar efisiensi makan nasi diperlukan komitmen semua pihak, mulai dari pemuka agama, cendekiawan, pejabat pemerintah, dll. Semua harus bicara masalah efisiensi makan nasi dengan cara masak nasi tidak berlebih dan diusahakan dimakan tidak tersisa, dan selanjutnya melakukan diversifikasi pangan. Selain itu harus ada panutan dari pejabat pemerintah mulai dari pemerintah pusat sampai di tingkat paling rendah di daerah. Misalnya saat makan siang di kantor, atau waktu rapat dan seminar, harus disajikan hidangan makanan non-beras. Efisien makan nasi hanya bisa dilakukan oleh keluarga yang mampu. Sedangkan pada keluarga yang tidak mampu sulit dilakukan. Dengan didorong rasa solidaritas, seharusnya keluarga mampu mau melakukan efisiensi makan nasi guna membantu keluarga tidak mampu agar mendapat kesempatan bisa membeli beras sesuai kemampuan daya belinya. Manakala keluarga mampu tidak punya solidaritas membantu keluarga yang tidak mampu, nampaknya sulit juga mendorong mereka untuk melakukan efisiensi makan nasi. Budaya masyarakat Indonesia kalau makan nasi di piring sampai habis/bersih umumnya dinilai tidak sopan. Masalah ini juga menjadi salah satu kendala dalam mengimplementasikan program efisiensi makan nasi. Namun kalau pejabat pemerintah, tokoh agama, cendekiawan, para ilmuwan, dll. bersama-sama mensosialisakan program efisiensi makan nasi, dalam upaya menurunkan tingkat konsumsi beras secara nasional, hal itu optimistis akan bisa dicapai. Jadi apabila pemerintah ingin mencapai surplus beras 10 juta ton, tahapan yang harus dilakukan adalah membuat program efisiensi makanan nasi, melakukan gerakan “satu hari tanpa nasi”, dan kemudian melakukan diversifikasi pangan. Langkah tersebut harus dijadikan crash program jangka yang sangat pendek. Selanjutnya untuk jangka pendek dan menengah melakukan tahapan intensifikasi, walaupun berhadapan dengan masalah anomali iklim. Sedangkan untuk jangka menengah dan panjang melakukan program ekstensifikasi. (**)
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||
| Last Updated on Sunday, 04 December 2011 18:59 |






fahrisan : 085722155416
perkenalkan saya fahrisan, ingin menc...
perkenalkan saya fahrisan, ingin menc...
Mencoba untuk membantu, harga sapi pe...
Mohon informasi mengenai harga sapi p...