logo
You Are Here: Halaman Depan Opini PROGRAM SUSU UNTUK ANAK SEKOLAH AGAR DIJADIKAN KEPUTUSAN POLITIK PEMERINTAH
contenthead
PROGRAM SUSU UNTUK ANAK SEKOLAH AGAR DIJADIKAN KEPUTUSAN POLITIK PEMERINTAH PDF Print E-mail
Written by Teguh Boediyana   
Sunday, 26 December 2010 02:41
Oleh : Teguh Boediyana (Ketua Dewan Persusuan Nasional)

DPN (Dewan Persusuan Nasional)  minta kepada pemerintah segera menetapkan program susu untuk anak sekolah, kemudian dijadikan keputusan politik pemerintah. Hal itu dimaksudkan agar masing-masing instansi yang terkait mau melaksanakan program susu untuk anak sekolah dengan sungguh-sungguh dalam satu komando lembaga yang dibentuk dan bertanggung jawab melaksanakan program susu untuk anak sekolah.   Program susu untuk anak sekolah harus berbasis produksi susu segar dalam negeri.   

Program susu untuk anak sekolah juga dimaksudkan secara bertahap dapat mengurangi kebergantungan pasar susu segar hanya ke Industri Pengolahan Susu (IPS).  Namun   program susu untuk anak sekolah diharapkan tidak mengganggu serapan susu segar ke IPS, karena sasaran progam susu untuk anak sekolah adalah anak-anak dari keluarga yang tidak mampu. Anak sekolah yang diberikan susu diprioritaskan mulai dari anak taman kanak-kanak sampai Sekolah Dasar (SD). Diharapkan setelah mereka lulus SD  dan tidak mendapatkan program susu untuk anak sekolah, di rumah masih  meneruskan kebiasannya minum susu. Kalau tidak ditunjang dengan program susu untuk anak sekolah, dikhawatirkan kualitas sumber daya manusia dari masyarakat yang paling bawah akan tertinggal kecerdasan dan fisiknya, sehingga mereka tidak bisa memperoleh kesempatan memanfaatkan perkembangan teknologi dan kemajuan zaman.   

DPN pernah mengusulkan  kepada Presiden agar segera membuat program susu untuk anak sekolah, dan membentuk Badan Pengembangan Persusuan Nasional yang ditugasi dan bertanggung jawab menangani program susu untuk anak sekolah. Melihat kemampuan produksi susu dalam negeri yang sampai sekarang baru bisa memenuhi 20% dari kebutuhan susu nasional, mestinya masih ada peluang untuk mengembangkan produksi susu segar di dalam negeri. Selain itu  Indonesia jauh tertinggal dibanding negara-negara lain dalam melaksanakan program susu untuk anak sekolah dalam upaya menyiapkan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu pemerintah diminta menggunakan susu sebagai instrumen untuk mengantisipasi terjadinya lost generation. 

DPN baru-baru ini menghadiri International School Milk Conference di Vietnam, yang dihadiri 17 negara termasuk dari Indonesia. Mempelajari laporan dari masing-masing negara dalam melaksanakan program susu untuk anak sekolah yang disampaikan pada konferensi tersebut, telah  menyadarkan pada kita, bahwa ternyata kita tertinggal dari negara-negara lain dalam menyiapkan sumber daya manusia dalam menghadapi era  globalisasi yang sesungguhnya nantinya. 

Dalam laporannya sebagian besar negara di dunia memiliki perhatian yang sangat serius dalam rangka menyiapkan kualitas sumber daya manusianya melalui program susu untuk anak sekolah. Melalui program susu untuk anak sekolah mereka juga mendorong peningkatan pengembangan usaha peternakan sapi perah di dalam negeri masing-masing. Jadi melalui program susu untuk anak sekolah telah tercipta kondisi yang mempunyai tujuan paralel, yaitu menyiapkan kualitas sumber daya manusia dan mengembangkan usaha peternakan sapi perah.  

Vietnam negara yang relatif baru mengakhiri perang melawan Amerika Serikat tahun 1975,  ternyata dalam melaksanakan program susu untuk anak sekolah jauh lebih  maju.  Dia melihat bahwa susu untuk anak sekolah merupakan cara yang efektif untuk menyiapkan kualitas sumber daya manusia. Meskipun saat ini belum bisa mencakup  seluruh  anak sekolah, tetapi dia sudah melakukan rintisan-rintisan yang signifikan.  

Kemudian Iran baru 10 tahun yang lalu memulai melaksanakan program susu untuk anak sekolah, tetapi sudah dapat meningkatkan konsumsi susu mencapai 80 liter/kapita/tahun. Iran melaksanakan program susu untuk anak sekolah yang terbesar, karena sudah mencakup 12,5 juta anak sekolah. Dalam program susu untuk anak sekolah, susu yang diberikan menggunakan produksi susu lokal dan impor. Nampak sekali program susu untuk anak sekolah di Iran mendapat perhatian sangat serius dari pemerintahnya.  Pemerintah Iran menganggap program susu untuk anak sekolah bukan menjadi beban negara,  tetapi merupakan investasi untuk masa depan bangsa dan negara.  Hal ini memberikan indikasi bahwa negara tersebut memiliki komitmen tinggi dalam melaksanakan program susu untuk anak sekolah. 

  Sedangkan Amerika Serikat sejak tahun 1940-an sudah melaksanakan program susu untuk anak sekolah. Meskipun konsumsi susu per kapita sudah sangat tinggi, tetapi pemerintah Amerika Serikat tetap mendorong program susu untuk anak sekolah, yang sudah berkembang keseluruh negara bagian, dan melahirkan program-program  yang dapat mendorong konsumsi susu masyarakat. Di kantin di sekolah-sekolah, restouran dan kafe-kafe setiap makan siang selalu diikuti dengan minum susu. Gerakan minum susu sudah secara otomatis berjalan sendiri tanpa didukung pemerintah, dan para pelajar dengan kesadarannya sendiri termotifasi untuk minum susu. Masing-masing sekolah mengelola program minum susu bagi murid-muridnya.

Di Rusia juga baru melaksanakan program susu untuk anak sekolah, tetapi pemerintahnya sangat serius mengembangkan peternakan sapi perah maupun program-program konsumsi susu untuk anak sekolah. Negara Eropa Timur seperti Polandia juga gencar melakukan program susu untuk anak sekolah. Jepang tidak perlu diragukan lagi sudah terlebih dahulu melaksanakan program susu untuk anak sekolah. Sebagian negara-negara Afrika  secara serius mengembangkan program susu untuk anak sekolah.

Dilihat dari jumlah penduduknya, di China pelaksanaan program susu untuk anak sekolah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Melalui program susu untuk anak sekolah telah membuktikan bahwa pertumbuhan fisik sumber daya manusianya sangat berbeda, pertumbuhan tulangnya jauh lebih bagus, kecerdasan berpikirnya juga lebih maju. 

Thailand sesama negara ASEAN, komitmentnya dalam melaksanakan program susu untuk anak sekolah luar biasa. Thailand mulai melaksanakan program susu untuk anak sekolah tahun 1992, pemerintahnya menyediakan anggaran USD 9,3 juta, tetapi sekarang tahun 2010 pemerintahnya menyediakan anggaran USD 400 juta. Konsumsi susu per kapita penduduk Thailand sudah mencapai 28,6 liter/kapita/tahun. Sedangkan Indonesia  kurang dari 10 liter/kapita/tahun.  Program susu untuk anak sekolah di Thailand sudah mencakup 8 juta anak sekolah. 

Pada tahun 1978 produksi susu segar Thailand masih jauh dibawah Indonesia. Sekarang produksi susu segar Thailand sudah hampir dua kali lipat dari produksi susu segar Indonesia. Program susu untuk anak sekolah seluruhanya menggunakan susu segar produksi dalam negeri, yang setiap hari  dibutuhkan 1.200 ton susu segar, yang mendekati produksi susu segar Indonesia sebesar 1.500 ton/hari. Peranan Raja Thailand sangat besar dalam melaksanakan program susu untuk anak sekolah dengan baik, yang  dikelola oleh institusi/lembaga yang ditunjuk pemerintah. (*) 

 

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

contentfoot

Main Menu

Visitor Website




Adsense Indonesia