logo
You Are Here: Halaman Depan Opini Harga Pakan dan Kepanikan Peternak
contenthead
Harga Pakan dan Kepanikan Peternak PDF Print E-mail
Written by Rochadi Tawaf   
Sunday, 22 March 2009 16:22
Dunia kini sedang menghadapi krisis energi. Krisis ini telah mengalihkan sumber energi yang berasal dari fosil (minyak dan gas bumi) ke sumber hayati (bio-fuel). Khususnya sumber energi tersebut yang paling banyak diminati diolah dan berasal dari suber biji-bijian (sereal). Fenomena tersebut telah memberikan dampak negatif terhadap persedian pangan dan pakan. Selain hal tersebut, di planet bumi ini telah terjadi pula perubahan iklim yang berakibat pada pemanasan global (global warming). Pemanasan global adalah meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Kini, bumi menghadapi pemanasan yang sangat cepat. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai efek gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi.
Para ilmuwan senyatanya telah memperkirakan bahwa dampak pemanasan global akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan meningkatnya volume lautan, sehingga akan menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau. Beberapa daerah tropis yang beriklim hangat akan menerima curah hujan lebih tinggi, tetapi tanah juga akan lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan menghancurkan suplai pangan di beberapa tempat di dunia, sebagai akibat gagal panen.
Sebenarnya kesemua fenomena tersebut bukanlah merupakan rahasia, karena para ahli di jagat ini telah lama memperingatkannya. Namun, sepertinya boleh jadi dikatakan bahwa antisipasi ke arah menangkal atau paling tidak mengurangi dampak negatif yang akan terjadi tidak dilakukan secara intens oleh pemerintah. Padahal semua orang tahu bahwa biofuel yang berkembang di Amerika Serikat dan di negara-negara maju lainnya, berasal dari sereal (seperti jagung dan kedelai). Dan semua pun tahu pula bahwa Indonesia setiap tahun mengimpor kedelai tidak kurang dari 1,5 juta ton per tahun atau sekitar 65 %. Impor ini sebagian besar berasal dari Amerika Serikat. Mengapa sepertinya pemerintah harus menunggu terjadinya demo yang dilakukan oleh para perajin tahu/tempe, baru kemudian mengambil kebijakan? Dalam situasi yang penuh kepanikan tersebut, kebijakan yang diambil pun tentu merupakan “panic policy” atau kebijakan panik, inilah sikap moralitas birokrat kita saat ini. Yaitu kebijakan sesaat yang tergesa-gesa dan hanya berpihak kepada kelompok tertentu. Pembebasan bea masuk 0% bagi kedelai impor merupakan contoh yang tidak populer dan tidak pula berpihak kepada petani. Kebijakan ini sebenarnya akan lebih menguntungkan para importir ketimbang petani. Solusi ini belum memecahkan masalah pokoknya. Kita berharap kebijakan ini merupakan penangkal sementara, tentu akan dilanjuti oleh kebijakan lainnya.
Walaupun pemerintah akan membuka lahan bagi usaha tani kedelai dengan berbagai fasilitas lainnya, tentu petani tidak akan mampu bersaing dengan harga impor yang akan lebih murah dibanding dengan produksi di dalam negeri. Serentetan dampak lain yang mungkin muncul dikemudian hari di negeri ini akan terjadi pula dapak bagi sub-sektor peternakan. Misalnya; kelangkaan sumber pakan ternak yang berasal dari kedelai, jagung, gandum atau sereal lainnya. Apabila kita simak sejarah masa lalu sebelum impor kedelai dilakukan oleh negeri ini (sejarah perkedelaian di Indonesia), ternyata bangsa ini sebenarnya telah mampu memenuhi kebutuhan kedelai di dalam negerinya. Sejak impor kedelai dilakukan secara besar-besaran, ternyata pemerintah terlena dan terjadilah ketergantungan terhadap produk impor.
Evaluasi
Untuk mencari jalan keluar dari berbagai permasalah tersebut, kajian yang perlu dilakukan antara lain; meliputi berapa besar kerugian yang diakibatkan oleh kenaikan harga, ketimbang besarnya devisa yang dihemat melalui terobosan alternatif pangan di dalam negeri, serta sejarah sebelum terjadinya impor kedelai di masa lalu.
Kenaikan harga sebenarnya merupakan insentif pasar yang diterima petani untuk mampu meningkatkan produksi dan produktivitasnya. Seharusnya kenaikan harga disikapi lebih arif, yaitu dengan melakukan evaluasi terhadap berbagai alternatif misalnya :
  1. Dalam jangka pendek petani memerlukan insentif kebijakan tentang lahan abadi, permodalan, bibit, obat-obatan, pupuk dsb. sehingga usahanya menjadi kondusif.
  2. Berikan perlakuan dalam bentuk kebijakan yang sama bagi petani kedelai di dalam dengan di luar negeri.
  3. Sosialisasikan bahan baku alternatif bagi produk tempe/tahu misalnya dari ‘lupin’.
  4. Lakukan diversifikasi pangan tempe/tahu sebagai sumber protein nabati ke jenis pangan yang berasal dari sereal lainnya (kacang tanah, kacang merah, kacang polong dsb).
  5. Penyediaan gudang-gudang yang representatif untuk dapat menampung hasil produksi kedelai rakyat.
  6. Memproteksi produksi bahan baku pakan tradable yang diproduksi oleh industri perkebunan, bukan yang diproduksi rakyat. Misalnya limbah kelapa sawit, karet dsb.
  7. Mengarahkan penelitian pertanian (di balai-balai, lembaga penelitian dan Perguruan Tinggi) agar berorientasi produk (problem solving) terhadap berbagai kasus yang terjadi saat ini.
Disadari bahwa konsep keseimbangan pasar akan selalu terjadi, khususnya paca krisis gonjang ganjing kenaikan harga kedelai saat ini. Namun demikian yang sangat diperlukan adalah sikap dan moralitas birokrat kita yang sangat arif dalam mengantisipasi gejolak perekonomian yang berpihak kepada produsen maupun konsumen di negeri ini.
Rochadi Tawaf
Dosen Fakultas Peternakan UNPAD
Wk. Ketua PB Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

contentfoot

Visitor Website




Adsense Indonesia