logo
You Are Here: Halaman Depan Opini
contenthead
Peternakan
PERBANKAN AGAR SEGERA REALISASIKAN SAPI DAPAT DIJADIKAN JAMINAN KREDIT BANK PDF Print E-mail
Written by Teguh Boediyana   
Sunday, 04 December 2011 18:14

Oleh: Teguh Boediyana (Ketua Umum PPSKI)

Jakarta, (Agribisnews)

PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia) mendesak perbankan agar segera mensosialisasikan dan merealisasikan program skim kredit bagi peternak sapi perah maupun sapi potong dengan jaminan sapi.  Program tersebut dinilai bagus untuk  mendorong jumlah kepemilikan sapi bagi peternak, sehingga masing-masing peternak memiliki  sapi mencapai skala ekonomis. Kepemilikan sapi mencapai skala ekonomis akan memberikan  jaminan terhadap pendapatan dan kesejateraan keluarga peternak, sehingga peternak dapat mengembangkan usahanya. 

Komisi IV DPR saat rapat dengar pendapat dengan Deputi Gubernur BI, Budi Rochadi telah disepakati bahwa hewan ternak sapi bisa dijadikan jaminan kredit  bank.  Hal itu dimaksudkan untuk memudahkan para peternak sapi agar bisa mengembangkan bisnisnya menjadi lebih besar. Keputusan BI bahwa sapi bisa dijadikan jaminan kredit bank adalah untuk merespons permintaan Komisi IV DPR,  karena banyaknya permintaan peternak sapi akan kredit bank.

Sebelumnya perbankan juga telah mengeluarkan skim Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS)  yang merupakan program kerjasama pemerintah pusat dengan pihak bank.  Namun KUPS masih sulit diakses oleh koperasi dan kelompok peternak sapi, karena terkendala persyaratan yang diminta pihak bank. Apabila sapi bisa dijadikan jaminan kredit bank, PPSKI menilai merupakan terobosan baru untuk menggenjot produksi sektor peternakan sapi perah maupun sapi potong. 

Last Updated on Sunday, 04 December 2011 18:59
Read more...
 
MENGURANGI KONSUMSI BERAS MERUPAKAN SALAH SATU KUNCI MENGATASI KRISIS PANGAN PDF Print E-mail
Written by KTNA   
Sunday, 04 December 2011 18:00

Ketua Umum KTNA :

MENGURANGI KONSUMSI BERAS MERUPAKAN SALAH SATU KUNCI MENGATASI KRISIS PANGAN

Jakarta, (Agribisnews)

Dalam upaya menyikapi krisis pangan dunia yang berdampak pada ketahanan pangan nasional, salah satu kuncinya pemerintah secara bertahap harus mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi beras, dengan program yang terencana dan terukur. Saat ini konsumsi beras Indonesia mencapai 139 kg/kapita/tahun, merupakan yang tertinggi dibanding negara-negara lain. Secara bertahap pemerinah harus punya target menurunkan konsumsi beras misalnya menjadi 130 kg/kapita/tahun, kemudian tahun berikutnya turun menjadi 120 kg/kapita/tahun, dan seterusnya.  Dalam program  pengurangan konsumsi beras harus dibarengi dengan peningkatan konsumsi pangan lokal. Ir.H. Winarno Tohir, Ketua Umum KTNA (Kelompok Kontak Tani dan Nelayan Andalan) Nasional mengatakan kepada Agribisnews.

Berdasarkan sensus ekonomi nasional yang dilakukan BPS (Badan Pusat Statistik) dilaporkan, sepanjang tahun 2010 konsumsi beras per kapita turun sebesar 1,4% dibanding tahun 2009. Pengurangan konsumsi beras tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan konsumsi pangan lokal, namun  malah terjadi peningkatan konsumsi terigu dan kentang. KTNA memberikan apresiasi kepada masyarakat yang dengan kesadarannya sendiri telah mau mengurangi konsumsi beras.

KTNA tidak melihat faktor yang mendorong masyarakat mengurangi konsumsi beras tersebut. Kemungkinan faktor harga beras yang semakin mahal, sehingga  masyarakat yang berpenghasilan rendah  semakin sadar untuk mengurangi  konsumsi beras, dan beralih mengkonsumsi  pangan non-baeras. Kalau faktor tersebut yang mendorong masyarakat atas kesadaran sendiri mengurangi konsumsi beras,  berarti bukan  program pemerintah yang menyebabkan konsumsi beras nasional turun.  Oleh karena  itu, agar pengurangan konsumsi beras lebih efektif dan lebih cepat terlaksana  dalam upaya mengamankan ketahanan pangan nasional, pemerintah supaya membuat program secara terencana dan terukur.

Last Updated on Sunday, 04 December 2011 18:59
Read more...
 
INPRES 8/2011 TERLAMBAT DIKELUARKAN PDF Print E-mail
Written by KTNA   
Sunday, 04 December 2011 17:50

Ketua Umum KTNA:  INPRES 8/2011 TERLAMBAT DIKELUARKAN

Jakarta, (Agribisnews)

Dalam rangka mengamankan cadangan beras yang dikelola Pemerintah, serta menjaga stabilisasi harga beras dan untuk mengantisipasi gangguan  produksi dan kenaikan harga gabah/beras yang disebabkan oleh kondisi iklim ekstrim, pemerintah telah mengeluarkan Inrpes No.8/2011 tentang kebijakan pengamanan cadangan beras yang dikelola oleh pemerintah dalam menghadapi kondisi iklim ekstrim. KTNA menilai kebijakan ini sangat fleksibel dan memberikan payung hukum yang kuat bagi Perum Bulog dalam  melaksanakan pembelian/pengadaan gabah/beras dari petani dalam negeri dengan harga di atas  HPP (Harga Pembelian Pemerintah).

Ir.H. Winarno Tohir, Ketua Umum KTNA (Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan) Nasional kepada Agribisnews mengatakan,  dalam kebijakan tersebut Perum Bulog ditugaskan melaksanakan pengadaan cadangan beras yang dikelola oleh pemerintah. Pembelian gabah/beras oleh Perum Bulog dalam rangka pengamanan cadangan beras yang dikelola oleh pemerintah dilakukan dengan memperhatikan HPP.  Dalam hal harga pasar gabah/beras lebih tinggi dari HPP, pembelian gabah/beras dapat dilakukan oleh Perum Bulog pada harga  yang lebih tinggi dari HPP dengan memperhatikan harga pasar yang dicatat oleh Badan Pusat Stastistik (BPS).

Melihat kondisi panen saat ini yang tinggal sekitar 40%, dan separuh puncak pengadaan/pembelian gabah/beras oleh Perum Bulog sudah berlalu, maka kebijakan tersebut dinilai terlambat dikeluarkan.  Kebijakan tersebut dikeluarkan bersifat reaktif setelah melihat kondisi pertanian padi yang kurang baik akibat pengaruh anomali iklim. Apabila kebijakan tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi mengamankan cadangan beras yang dikelola pemerintah, seharusnya kebijakan tersebut dikeluarkan menjelang awal musim panen rendeng yang lalu.

Last Updated on Sunday, 04 December 2011 18:59
Read more...
 
MENTAN TERLALU CEPAT AMBIL KEPUTUSAN MENAMBAH IMPOR DAGING PDF Print E-mail
Written by Teguh Boediyana   
Sunday, 04 December 2011 17:23
Oleh: Teguh Boediyana (Ketua Umum PPSKI)
Jakarta, (Agribisnews)


Menteri Pertanian terlalu cepat mengambil keputusan  untuk menambah jumlah  impor daging tahun 2011 sebanyak 22.000 ton. Sebelumnnya Dirjen Peternakan telah menetapkan jumlah  impor daging tahun 2011 sebanyak 50.000 ton.  Dengan ditambahnya jumlah  impor daging tersebut, maka pada tahun 2011 jumlah  impor daging menjadi 72.000 ton.  
 
Keputusan menambah jumlah  impor daging tahun 2011 sebanyak 22.000 ton  merupakan kebijakan pemerintah (Kementerian Pertanian) yang tidak konsisten. Selain itu pemerintah sebelumnya nampak sekali tidak memiliki  justifikasi dalam  membuat kebijakan menetapkan jumlah impor daging tahun 2011.  Jadi dengan kebijakan menambah jumlah impor daging tahun 2011 menjadi 72.000 ton menunjukkan tidak ada konsistensi kebijakan pemerintah, karena penetapan jumlah impor daging tahun 2011 sebelumnya tidak dilandasi dengan data-data yang akurat. Keputusan Dirjen Peternakan yang baru berlaku 3 bulan, kemudian dianulir oleh keputusan Menteri Pertanian dengan menambah jumlah impor daging tahun 2011. 
Last Updated on Sunday, 04 December 2011 18:59
Read more...
 
HASIL SENSUS TERNAK HARUS MENCERMINKAN POTENSI SEBARAN PETERNAKAN SAPI PDF Print E-mail
Written by PPSKI   
Sunday, 17 April 2011 11:42

Jakarta, Agribisnews

Hasil sensus ternak tahun 2011, diharapkan dapat digunakan untuk melihat   sebaran potensi peternakan sapi di masing-masing provinsi. Hal ini penting terutama untuk daerah-daerah yang selama ini surplus ternak, apakah masih memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan ternak sapinya. Misalnya NTB, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, Riau, merupakan daerah yang potensial dikembangkan peternakan sapi dan sekaligus diharapkan dapat menunjang target swasembada daging sapi tahun 2014.

PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia) berharap data statistik hasil sensus ternak sapi nantinya benar-benar dapat mencerminkan keadaan pembangunan peternakan yang sebenarnya. Pengembangan daerah pusat-pusat peternakan baru kelihatannya tidak ada. Namun Papua yang sangat prospektif sebagai daerah pengembangan peternakan sapi, nanti dapat dilihat apakah daerah tersebut mencerminkan sebagai pengembangan peternakan sapi baru. Dengan hasil sensus ternak ini diharapkan nantinya akan berguna bagi pemerintah untuk secara lebih tepat menetapkan pemetaan daerah-daerah pusat peternakan di Indonesia.

PPSKI minta Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statsitik (BPS) harus melakukan sensus ternak secara sungguh-sungguh, karena data yang diperoleh akan sangat  besar pengaruhnya dalam pengambilan kebijakan. Dengan angka dan data yang valid, diharapkan tidak ada lagi masalah-masalah yang timbul, seperti terjadi oversupply daging, kemudian  akibat impor daging yang berlebihan menimbulkan distorsi pasar dan harga ternak sapi di dalam negeri. Dengan data yang benar diharapkan impor sapi bakalan dan impor daging bisa diatur dan disusun sesuai kebutuhan, sehingga kebijakan tersebut menjadi instrumen yang efektif untuk meningkatkan populasi ternak sapi di dalam negeri. Apapun kebijakan yang diambil pemerintah harus berorientasi dalam rangka perlindungan terhadap pengembangan usaha peternakan sapi lokal, termasuk peternaknya.   Perlindungan dimaksudkan supaya peternakan sapi lokal terus berkembang dan dapat memenuhi keinginan pemerintah agar bisa memenuhi kebutuhan daging sapi nasional. 
Last Updated on Sunday, 17 April 2011 11:58
Read more...
 
SENSUS TERNAK SAPI PERAH SUPAYA MELIBATKAN KOPERASI SUSU PDF Print E-mail
Written by Teguh Boediyana   
Sunday, 17 April 2011 11:39

Oleh : Teguh Boediyana

Jakarta, Agribisnews

Sensus ternak sapi perah dinilai jauh lebih mudah dilakukan, karena pengusahaannya hanya terkonsentrasi di beberapa Kabupaten di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Selain disensus secara langsung ke masing-masing peternak, petugas sensus juga bisa memperoleh data dari koperasi susu, karena peternak sapi perah rakyat/kecil umumnya menjadi anggota koperasi. Supaya memperoleh data yang akurat tentang populasi ternak sapi perah di Indonesia, sensus ternak sapi perah diminta melibatkan koperasi susu sekaligus mengawal pelaksanaan sensus ternak sapi perah.

Selama ini pemerintah mengklaim populasi ternak sapi perah hampir mencapai  500.000 ekor. Namun melihat ternak sapi perah di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi 90% terhadap populasi ternak sapi perah di Indonesia, menurut catatan koperasi susu sebenarnya populasinya tidak sebanyak itu. Begitu juga mengenai produksi susu, Dewan Persusuan Nasional (DPN) meragukan data produksi susu yang disajikan pada buku statistik peternakan, yang angkanya dinilai terlalu tinggi. 
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>

Page 1 of 6


contentfoot

Visitor Website




Adsense Indonesia