|
Written by Administrator
|
|
Friday, 27 March 2009 07:01 |
Menyusul penetapan bea masuk 0 % bagi produk susu impor mulai Maret 2009 ini, pelaku usaha peternakan sapi perah rakyat di Indonesia meminta subsidi pakan untuk menekan tingginya biaya produksi.
Permintaan itu sebagai upaya menyelamatkan usaha peternakan sapi perah dari kehancuran akibat ancaman harga produk susu impor. "Ditetapkannya bea masuk nol persen bagi produk susu impor, dikhawatirkan produk susu sapi lokal berkurang serapannya oleh industri pengolah susu (IPS)," ujar Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Rochadi Tawaf pada diskusi usaha peternakan sapi perah rakyat di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unpad Bandung, Jumat (20/3).
Berdasarkan hasil penelitian Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), sejak enam bulan terakhir saja, komposisi bahan baku susu oleh IPS sudah 80% impor dan 20% lokal, semula masih 70:30. Kondisi demikian, kata Rochadi, diduga disebabkan harga susu sapi impor kini sedang semakin murah harganya, di pasaran dunia per November 2008 menjadi dua ribu dolar AS/MT atau setara Rp 3.000,00/liter dari semula lima ribu dolar AS/MT (Rp 4.800,00/liter). Dibandingkan dengan harga susu sapi dalam negeri berkisar Rp 3.200,00/liter standar TPC kurang dari satu juta TS 12% dan masih di bawah harga pokok pemerintah Rp 3.272,00/liter, sedangkan produk dengan standar TPC kurang dari satu juta grade satu Rp 3.600,00/liter.
Menurut beliau, subsidi yang diharapkan, terutama untuk jenis polar sebagai salah satu bahan pakan yang penting menyusul semakin berkurangnya luas lahan selaku sumber cadangan pakan. Apalagi, selama ini masalah pakan membebani biaya produksi para peternakan sapi. Jika ada subsidi, ditambahkan Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), Dedi Setiadi, diharapkan peternak sapi perah rakyat masih memperoleh margin keuntungan walaupun ada risiko penurunan harga pembelian susu segar oleh IPS. Staf Ahli LPPM Unpad Dr. Rachmat Setiadi mengatakan, subsidi harga polar memang diperlukan dan ini pernah dilakukan pemerintah beberapa tahun lalu. Sekarang harga polar mencapai Rp 1.800,00/kg, dan dirasakan kemahalan oleh para peternak.
Langkah yang juga harus ditempuh, memperjuangkan agar IPS tak menurunkan harga pembelian susu sapi dalam negeri. Pasalnya, harga produk jadi susu yang dijual ke konsumen, sampai kini belum turun bahkan beberapa kali malah naik. Usaha lain mengembangkan pembangunan industri susu berbasis serapan susu dalam negeri sehingga produk susu sapi perah rakyat bertambah jalur pemasarannya dibanding saat ini yang hanya mengandalkan penjualan kepada berbagai IPS. Bahkan, para pelaku usaha peternakan sapi perah rakyat Jabar meminta agar Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, menyisihkan anggaran dari Pemprov Jabar untuk membeli susu sapi peternak rakyat di Jabar, untuk disalurkan ke sekolah untuk diminum para pelajar.
Sumber : http://newspaper.pikiran-rakyat.com
|
@Ahmad, anda adalah orang yang be...
i like..koperasi is the best..
saya punya perternakan ayam telur hij...
saya pnya perternakan ayam bertelur h...
I will recommend not to hold off unti...